Aku Memang Anak Sedikit Nakal
Namaku Fitriwiyanto, dan biasa dipanggil Fitri. Usiaku 15 tahun, tetapi aku masih duduk di kelas V SDN 012 Desa Pasir Baru Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Provinsi Riau. Aku memang tergolong anak yang nakal, sehingga aku tidak naik kelas selama 3 tahun. Namun pantaskah aku mendapat tamparan di pipiku, pukulan di bagian kepala kiriku, dan sebuah tinjuan keras di dada oleh seorang guru Arab Melayu (Armel), Pak Ahmad, yang sekaligus Kepala Sekolah (Kepsek) di SDN 012 Pasir Baru Rambah, Rohul – Riau.

Pak Ahmad, sungguh kami hormati. Tetapi tidak tahu, karena bajuku kotor setelah bermain bola saat jam istirahat dengan teman-temanku, Selasa 25 Mei 2010 lalu sekitar pukul 12.30, Pak Ahmad menyuruhku ke depan kelas. “Kenapa bajumu kotor seperti itu?,” tanya Pak Ahmad, kepadaku sambil tangannya mencubit pinggangku. Namun aku yang masih lugu menjawab jujur, “Kena bola pak,” jawabku dengan singkat, karena memang benar aku bermain bola pada jam istirahat dilapangan berlapiskan tanah liat. Sehingga baju sekolah putih-merahku kotor dengan warna kuning dari tanah liat.
Selanjutnya aku disuruh menulis arab di papan tulis (white board). Tetapi karena salah, aku menghapus tulisan itu, dan bermaksud menggantinya. Tetapi naas, saat itu Pak Ahmad marah besar kepadaku. “Kenapa kau hapus tulisanmu?,” tanya Pak Ahmad, dengan emosi. Belum sempat aku menjawab, pipiku ditampar keras beberapa kali oleh beliau. Namun aku yang tidak terima, membanting kapur ke lantai. Saat itulah, Pak Ahmad semakin emosi dan kembali telapak tangannya memukul kepala kiriku dengan keras. Sehingga kepalaku pusing, dunia terasa gelap saat itu. Belum sempat aku mengelak lagi, beliau memberikan tinju tangannya ke dadaku dengan keras, terasa sesak dadaku. Namun aku hanya seorang murid, dan tetap tidak bisa melawannya. Apalagi ia orang yang kami hormati disekolah. Namun aku tidak mengerti, darimana Pak Ahmad, belajar dan dapat ilmu soal tinju selama ini. Karena aku benar-benar seperti petinju yang KO, tanpa bisa membalas.
Orang Tuaku Buta dan Takut Hukum
Selesai dianiaya, aku diusir dari kelas. Dan dengan terpaksa, kepala yang masih pusing, dan panasnya matahari siang saat itu. Aku kembali kerumahku, tak jauh dari sekolah. Sesampainya dirumah, selesai membuka semua pakaianku. Aku tiduran dikamar, namun kepalaku semakin menjadi, dan aku muntah. Ibuku Kasirah (30 tahun), memberiku obat pusing, dan bertanya kepadaku. “Kamu makan apa tadi di sekolah. Kok pulang langsung muntah,” tanya ibuku, sambil memberikan obat pusing. Selanjutnya aku ceritakan semuanya, apa yang sudah terjadi disekolah. Dan selanjutnya aku disuruh tidur siang oleh ibuku. Sementara ayahku yang pulang sore hari dari ladang, baru tahu dari ibuku malam harinya. “Biarlah bu. Mungkin anak kita nakal disekolah. Kita juga tidak tahu soal hukum,” itulah jawaban dari ayahku, yang hanya seorang petani.
Namun aku sangat menyesal kepada guruku Pak Ahmad. Mengapa aku yang harus menjadi korban? Mengapa aku yang menjadi pelampiasan latihan tinjunya? Dan mengapa teman-teman kelasku hanya diam saat aku dijadikan sasaran emosi Pak Ahmad?..
Sungguh aku tidak mengerti, apakah orang kecil seperti kami harus dijadikan sasaran oleh para pelaku elite seperti beliau? Apalagi sebelumnya, kedua temanku di Madrasah Diniyahaliyah (MDa), juga diusir oleh Pak Ahmad, yang juga sebagai guru agama pada sore hari. Karena tidak membayar uang ujian sebesar Rp 25 ribu. Kedua temanku disuruh menunggu hingga tahun depan lulus dan ikut ujian MDa. Inilah nasib anak desa yang jauh dari perkotaan. Apa yang terjadi di lingkungan kami, tidak diketahui oleh masyarakat luas.
Semoga dengan kejadian ini, menjadi pelajaran untuk semua guru yang ada di dunia ini. Sehingga mereka tidak lagi menganiaya teman-temanku sesama pelajar. Karena kami sekolah untuk pintar, bukan belajar kekerasan, seperti kehidupan dijalanan yang penuh resiko. Jika kami mau jadi preman, untuk apa kami datang ke sekolah setiap harinya? Berilah kami pendidikan yang sifafnya edukatif. Sehingga kami bisa menambah pengetahuan dan wawasan. Masih banyak contoh hukuman yang mendidik. Itulah yang kami harapkan kepada semua guru Indonesia.. GURU Adalah Seorang PAHLAWAN tanpa TANDA JASA..***(Achmad Reza – Riau)